banner 728x250

Satu Hari Tiga Tradisi: Menelusuri Kuliner Adat di Perbatasan Indonesia–Malaysia (Kalimantan Utara)

Kuliner Perbatasan Kaltara
Kuliner Perbatasan Kaltara
banner 120x600
banner 468x60

https://dunialuar.id/ Kalimantan Utara merupakan provinsi termuda di Indonesia yang menyimpan segudang pesona budaya. Salah satu warisan budaya yang jarang tersorot adalah kekayaan kulinernya, terutama di daerah perbatasan dengan Malaysia. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat bertemunya dua negara, tetapi juga menjadi lahan subur bagi persilangan tradisi dan rasa.

Dalam satu hari perjalanan, kita bisa menikmati tiga kuliner adat yang masing-masing mewakili kearifan lokal, rasa autentik, dan hubungan sosial yang erat antar masyarakat lintas negara. Tiga kuliner tersebut adalah sambal nanas dari Krayan, sate ikan pari dari Tana Tidung, dan bubur pedas yang ditemukan di kawasan perbatasan Sambas dan Sarawak. Mari kita jelajahi satu per satu.

banner 325x300

1. Sambal Nanas Krayan: Rasa Asam Manis dari Pegunungan

Wilayah Krayan di Kabupaten Nunukan terletak di dataran tinggi yang berbatasan langsung dengan wilayah Ba’kelalan, Sarawak. Daerah ini terkenal dengan pertanian organik, terutama nanasnya yang manis dan harum. Dari hasil tani itulah lahir sambal nanas, sajian khas masyarakat Dayak Lundayeh.

Sambal ini dibuat dari nanas segar yang ditumbuk kasar bersama cabai, bawang, dan sedikit garam. Kadang ditambahkan terasi bakar untuk menambah kekayaan rasa. Hasil akhirnya adalah sambal dengan kombinasi pedas, manis, dan sedikit asam yang menyegarkan. Biasanya disajikan sebagai pelengkap nasi dan lauk pauk seperti ikan asin atau daging asap.

Sambal nanas tidak hanya mencerminkan kekayaan alam Krayan, tetapi juga hubungan harmonis antara masyarakat Indonesia dan Malaysia. Masyarakat Lundayeh di Krayan dan Ba’kelalan saling mengunjungi, bertukar hasil tani, bahkan berbagi resep keluarga. Sambal nanas menjadi simbol rasa persaudaraan yang tidak mengenal batas negara.

2. Sate Ikan Pari dari Tana Tidung: Cita Rasa Laut yang Hangat

Melanjutkan perjalanan ke selatan, kita akan tiba di Kabupaten Tana Tidung, yang berbatasan langsung dengan wilayah Sabah, Malaysia. Wilayah ini kaya akan hasil laut, salah satunya adalah ikan pari. Ikan pari bukan hanya dikonsumsi sehari-hari, tetapi juga menjadi menu istimewa dalam upacara adat atau acara keluarga besar.

Ikan pari dibersihkan dan dipotong dadu, lalu direndam dalam perasan jeruk nipis untuk menghilangkan aroma amis. Selanjutnya, potongan ikan dibumbui dengan rempah khas seperti kunyit, bawang putih, ketumbar, dan sedikit santan. Setelah dibumbui, ikan ditusuk dan dibakar di atas bara api. Hasilnya adalah sate ikan pari yang empuk dengan aroma asap yang menggoda.

Keunikan dari sate ini bukan hanya dari bahan dasarnya, tetapi juga dari cara penyajiannya. Biasanya disajikan bersama sambal kecap dan nasi jagung. Masyarakat Tidung meyakini bahwa berbagi sate pari dalam perayaan adat merupakan simbol keberkahan laut dan rezeki yang melimpah.

Kelezatan sate ini telah menarik perhatian wisatawan lokal maupun dari negara tetangga. Tidak jarang, resepnya diadaptasi oleh keluarga di Sabah, menciptakan variasi baru yang memperkuat ikatan budaya antara dua sisi perbatasan.

3. Bubur Pedas Sambas-Sarawak: Tradisi Melayu yang Bertahan

Di bagian barat Kalimantan Utara yang berbatasan dengan Kalimantan Barat dan Sarawak, kita akan menemukan sajian khas masyarakat Melayu yaitu bubur pedas. Makanan ini biasanya disajikan saat bulan Ramadan, tetapi dalam beberapa komunitas, bubur pedas juga menjadi makanan harian.

Bubur pedas dibuat dari beras tumbuk yang dimasak bersama santan, sayur-sayuran hutan seperti daun pakis, keladi, dan rempah seperti serai, lengkuas, dan daun kunyit. Rasa buburnya gurih dengan sedikit aroma pedas yang datang dari lada dan rempah alami.

Hidangan ini mencerminkan kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Melayu. Di masa lalu, bubur ini dimasak bersama-sama oleh seluruh warga kampung untuk disantap secara kolektif menjelang berbuka puasa. Tradisi itu masih hidup hingga kini, baik di wilayah Sambas maupun di Sarawak.

Yang menarik, resep bubur pedas di wilayah perbatasan sering kali berbeda tipis, menandakan adanya pertukaran budaya yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Beberapa rumah makan di perbatasan bahkan menyajikan dua versi bubur pedas: versi Indonesia dan versi Malaysia, lengkap dengan cerita perbedaannya.

Menyusun Rute Sehari di Perbatasan Kaltara

Untuk menikmati ketiga hidangan ini dalam satu hari, Anda bisa memulai pagi di Krayan untuk mencoba sambal nanas, dilanjutkan dengan makan siang di Tana Tidung menikmati sate ikan pari, dan sore hari menikmati bubur pedas di wilayah perbatasan Sambas atau Sarawak.

Selain wisata rasa, perjalanan ini akan memperkaya pengalaman budaya dan memperkenalkan Anda pada masyarakat lokal yang ramah dan terbuka. Setiap daerah memiliki keunikan tersendiri, tidak hanya pada makanannya, tetapi juga pada kisah-kisah yang menyertainya.

Penutup

Tiga kuliner khas perbatasan Kalimantan Utara ini adalah lebih dari sekadar makanan. Mereka adalah identitas, warisan, dan bentuk komunikasi antarbangsa. Sambal nanas Krayan, sate ikan pari Tana Tidung, dan bubur pedas Melayu bukan hanya mengenyangkan perut, tapi juga menghangatkan hati.

Dalam dunia yang terus berubah dan sering kali terpolarisasi, kuliner bisa menjadi jembatan yang menyatukan. Di meja makan, tidak ada batas. Hanya ada rasa, cerita, dan kebersamaan.

Jika Anda ingin menjelajahi sisi lain Indonesia yang jarang dijamah, mulailah dari perbatasan Kalimantan Utara. Di sana, satu hari cukup untuk mencicipi tiga tradisi kuliner yang menyatukan dua bangsa dalam satu rasa.

Baca juga https://angginews.com/

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *