https://dunialuar.id/ Di ujung timur Kota Surabaya, tepatnya di kawasan Rungkut, terbentang sebuah ekosistem penting namun sering kali luput dari perhatian: Hutan Mangrove Wonorejo. Terhampar di sepanjang pesisir timur kota, kawasan ini menjadi benteng alami terhadap abrasi dan gelombang laut, sekaligus menjadi paru-paru hijau yang menopang keseimbangan ekologi kota metropolitan ini.
Namun, seiring waktu, kawasan mangrove yang dulunya lebat dan menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa kini menghadapi tantangan serius: alih fungsi lahan, pencemaran, pembangunan pesisir, dan minimnya perhatian publik. Mangrove Wonorejo ibarat penjaga setia yang kini mulai dilupakan.
Mangrove: Penjaga Garis Pantai yang Vital
Hutan mangrove adalah ekosistem pesisir yang unik dan vital. Akar-akar tunjangnya yang kokoh mampu meredam ombak dan mencegah abrasi — pengikisan daratan oleh air laut yang dapat menyebabkan tenggelamnya wilayah pesisir. Selain itu, mangrove juga menyaring polutan, menyerap karbon dalam jumlah besar, dan menjadi habitat penting bagi berbagai spesies ikan, burung, kepiting, dan makhluk hidup lainnya.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia adalah negara dengan hutan mangrove terluas di dunia. Namun, banyak dari hutan ini — termasuk yang berada di wilayah perkotaan seperti Surabaya — mengalami degradasi karena tekanan pembangunan dan aktivitas manusia.
Mangrove Wonorejo: Oase Hijau di Tengah Perkotaan
Kawasan mangrove Wonorejo terletak di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, dan mencakup area sekitar 200 hektare. Wilayah ini menjadi salah satu ruang hijau alami yang tersisa di Kota Surabaya bagian timur.
Beberapa fungsi penting Mangrove Wonorejo antara lain:
-
Menahan abrasi laut dan banjir rob
-
Menjadi habitat bagi lebih dari 30 jenis burung
-
Mendukung perikanan dan keragaman hayati pesisir
-
Menjadi ruang edukasi dan wisata ekologi
Kawasan ini bahkan telah dijadikan sebagai Ekowisata Mangrove Wonorejo, dengan fasilitas dermaga, jalur tracking, dan perahu wisata untuk menyusuri aliran sungai yang membelah rimbunnya vegetasi mangrove.
Tantangan dan Ancaman yang Kian Nyata
Meskipun berperan penting, kelestarian hutan mangrove Wonorejo terus menghadapi tantangan serius:
1. Alih Fungsi Lahan
Pembangunan pesisir, seperti proyek perumahan mewah, reklamasi, dan kawasan industri, perlahan “memakan” ruang mangrove. Alih fungsi ini tak hanya memperkecil kawasan mangrove, tapi juga mengganggu ekosistem pesisir secara keseluruhan.
2. Pencemaran Air
Limbah rumah tangga, industri, dan sampah plastik dari aliran sungai mencemari kawasan mangrove. Sampah yang menumpuk di akar-akar mangrove menghambat pertumbuhannya dan mematikan organisme di sekitarnya.
3. Minimnya Partisipasi Masyarakat
Meski secara geografis dekat, banyak warga yang kurang menyadari pentingnya keberadaan mangrove. Aktivitas ilegal seperti penebangan pohon mangrove dan penangkapan satwa liar masih terjadi karena lemahnya pengawasan.
4. Kebijakan yang Tidak Konsisten
Beberapa proyek pembangunan tidak memperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), sehingga kawasan konservasi menjadi area rawan eksploitasi. Ketidaktegasan kebijakan lingkungan membuat kawasan ini semakin terpinggirkan.
Data Degradasi dan Dampaknya
Berdasarkan data dari beberapa penelitian lokal dan laporan NGO lingkungan, sejak tahun 2000-an, kawasan mangrove Surabaya mengalami degradasi signifikan, termasuk di Wonorejo. Sekitar 20–30% dari vegetasi mangrove alami mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia dan perubahan bentang lahan.
Dampaknya sudah terasa:
-
Abrasi terus menggerus bibir pantai, memaksa pembangunan tanggul buatan yang tidak efisien dan mahal.
-
Penurunan populasi burung migran, yang dahulu menjadikan kawasan ini sebagai tempat transit.
-
Penurunan hasil tangkapan nelayan lokal, karena rusaknya habitat pemijahan ikan dan biota laut lainnya.
-
Meningkatnya suhu lokal, karena berkurangnya ruang hijau yang mampu menyerap panas.
Upaya Pelestarian: Antara Harapan dan Realitas
Sejumlah upaya konservasi telah dilakukan untuk menyelamatkan kawasan mangrove Wonorejo, baik oleh pemerintah, LSM, akademisi, hingga komunitas warga.
✅ Inisiasi Ekowisata Mangrove
Dikelola oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, kawasan ini dijadikan sebagai pusat wisata edukasi berbasis ekologi. Pengunjung bisa belajar tentang jenis-jenis mangrove, peran ekosistem, dan pentingnya konservasi.
✅ Penanaman Kembali (Rehabilitasi Mangrove)
Program penanaman mangrove oleh pelajar, komunitas pecinta lingkungan, dan relawan terus digalakkan. Jenis-jenis seperti Rhizophora mucronata dan Avicennia marina ditanam di area yang mengalami kerusakan.
✅ Edukasi dan Kampanye Lingkungan
Kampanye melalui media sosial, seminar, dan kegiatan sekolah turut membantu membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga mangrove.
Namun demikian, tantangan terbesar tetap pada komitmen jangka panjang. Banyak inisiatif yang bersifat temporer, simbolik, atau tidak didukung oleh pengawasan dan pendanaan yang memadai.
Solusi Berkelanjutan: Menjaga yang Tersisa
Jika mangrove Wonorejo ingin tetap eksis dan berfungsi optimal, diperlukan strategi pelestarian yang lebih komprehensif dan terintegrasi:
1. Penguatan Regulasi dan Zonasi
Pemerintah kota perlu mempertegas batas kawasan lindung dan memastikan tidak ada pembangunan yang melanggar RTRW.
2. Kolaborasi Multistakeholder
Melibatkan pihak swasta, masyarakat, akademisi, dan pemerintah dalam bentuk co-management (pengelolaan bersama), bukan hanya proyek satu arah.
3. Sistem Pengawasan Partisipatif
Masyarakat lokal perlu diberdayakan sebagai penjaga kawasan, dengan insentif atau skema padat karya yang mendukung keberlanjutan.
4. Diversifikasi Ekowisata
Ekowisata tidak hanya harus menarik, tapi juga mendidik dan memberi dampak ekonomi langsung ke warga sekitar — seperti pelatihan pemandu lokal, produk UMKM, dan workshop lingkungan.
5. Riset dan Pemantauan Rutin
Kerjasama dengan perguruan tinggi lokal untuk melakukan riset keanekaragaman hayati, kualitas air, dan dampak sosial ekonomi sangat penting dalam menyusun kebijakan berbasis data.
Penutup: Menjaga Warisan, Menjaga Masa Depan
Mangrove Wonorejo bukan sekadar kumpulan pohon di tepi laut. Ia adalah benteng terakhir dari abrasi yang mengintai pesisir Surabaya, penyaring polusi kota, tempat berkembang biaknya ikan dan burung, serta ruang hidup yang damai bagi makhluk-makhluk yang tak bersuara.
Melupakan mangrove sama dengan mengabaikan masa depan ekologi dan keselamatan kota. Di tengah maraknya pembangunan fisik, suara-suara hijau seperti Wonorejo harus terus digaungkan, dijaga, dan dipulihkan.
Karena jika tidak sekarang, kapan lagi? Dan jika bukan kita, siapa lagi?
Baca juga https://angginews.com/
