Indeks

Biksu Menanam Pohon: Tradisi Buddhis untuk Reboisasi Lereng Gunung Salak

biksu tanam pohon
biksu tanam pohon

https://dunialuar.id/ Di lereng tenang Gunung Salak, pagi itu terdengar denting pelan lonceng kuil. Udara lembab berembus di antara kabut tipis. Beberapa biksu berjubah cokelat saffron perlahan melangkah, masing-masing membawa bibit pohon di tangan. Mereka bukan datang untuk berkhotbah, melainkan menanam kehidupan baru di tanah yang mulai tandus.

Tradisi ini bukan hal baru bagi kalangan monastik Buddhis, terutama dari aliran Theravāda dan Mahāyāna yang berbasis di sekitar Bogor dan Sukabumi. Mereka percaya bahwa merawat alam adalah bentuk nyata dari praktik Dharma—ajaran welas asih terhadap semua makhluk, termasuk tumbuhan dan tanah.

Lalu bagaimana para biksu bisa terlibat dalam reboisasi? Dan mengapa Gunung Salak menjadi lokasi penting dalam aksi spiritual ini?


Gunung Salak: Antara Mistisisme dan Degradasi

Gunung Salak bukan hanya gunung biasa. Ia memiliki makna simbolik dan spiritual yang tinggi dalam berbagai tradisi lokal. Dalam budaya Sunda, kawasan ini sering dianggap sebagai tempat sakral dan tenang. Banyak komunitas spiritual datang untuk bersemedi, termasuk para praktisi Buddhis.

Namun dalam dua dekade terakhir, Gunung Salak menghadapi tantangan serius:

  • Alih fungsi lahan menjadi kebun dan permukiman

  • Kebakaran hutan musiman

  • Penebangan liar di beberapa titik

  • Erosi dan longsor yang semakin sering terjadi saat musim hujan

Lereng gunung yang dahulu hijau mulai gundul di beberapa sisi, terutama di kawasan selatan dan barat. Kondisi ini mendorong para komunitas monastik untuk mengambil langkah nyata.


Ajaran Buddhis dan Alam: Bukan Sekadar Simbol

Dalam ajaran Buddha, hubungan antara manusia dan alam sangat erat. Tidak ada dikotomi antara makhluk hidup dan lingkungan—semuanya saling berkaitan dalam jaring kehidupan yang disebut paticca samuppāda (hukum sebab-akibat bergantungan).

“Ketika pohon ditanam, tidak hanya tanah yang diselamatkan. Pikiran juga menjadi lebih jernih. Ini praktik meditasi,” ujar Bhante Ananda, seorang biksu senior di vihara daerah Cigombong.

Konsep Buddhis seperti ahimsa (tanpa kekerasan), karuṇā (belas kasih), dan sati (kesadaran penuh) menjadi dasar moral dalam tindakan ini. Menanam pohon bukan hanya aksi lingkungan, tapi bagian dari jalan spiritual.


Tradisi Menanam Pohon: Bukan Hal Baru

Tradisi menanam pohon oleh komunitas Buddhis sebenarnya telah berlangsung sejak abad ke-5 di Asia Selatan dan Asia Timur. Di Sri Lanka dan Tibet, penanaman pohon dilakukan sebagai:

  • Simbol pelindungan terhadap makhluk hidup

  • Peninggalan spiritual (misalnya, menanam pohon Bodhi sebagai penghormatan kepada Buddha)

  • Penanda tempat suci di hutan atau pegunungan

Di Indonesia, praktik ini mulai dikenal luas pasca reformasi, terutama ketika vihara-vihara mulai aktif dalam kegiatan sosial-lingkungan. Salah satunya adalah Vihara Dhamma Sundara, yang sejak 2010 secara rutin mengadakan acara Dhamma Tree Planting di sekitar Gunung Salak.


Reboisasi Sebagai Meditasi

Dalam kegiatan reboisasi yang dilakukan para biksu, tidak ada suara gaduh. Setiap langkah dan gerakan dilakukan dengan kesadaran penuh. Bahkan, penanaman pohon dilakukan dalam keheningan, diiringi doa atau mantra Buddhis seperti Metta Sutta (ajaran tentang cinta kasih universal).

Beberapa prinsip yang mereka terapkan:

  • Memilih pohon endemik dan bermanfaat: seperti puspa, rasamala, dan trembesi

  • Menanam tanpa merusak tanah: tidak menggunakan alat berat

  • Melibatkan warga sekitar dalam tahap pemeliharaan

  • Menghindari pendekatan seremonial berlebihan

“Pohon yang ditanam hari ini adalah doa yang hidup. Ia tumbuh dalam diam, memberi oksigen, menahan air, dan menyejukkan hati,” ujar Bhikkhu Dhammaviro, yang sudah 15 tahun bermeditasi di kawasan Gunung Salak.


Kolaborasi dengan Masyarakat Lokal

Para biksu tidak bekerja sendiri. Dalam setiap aksi reboisasi, mereka bekerja sama dengan warga desa sekitar, terutama kelompok tani hutan dan pemuda karang taruna. Dalam beberapa kasus, reboisasi menjadi ruang dialog antara agama dan komunitas.

Desa Sukaluyu, misalnya, menjadi lokasi rutin kegiatan penanaman pohon bersama antara vihara dan warga Muslim. Alih-alih bentrok keyakinan, mereka justru saling bahu-membahu menanam dan menjaga hutan.

Bahkan beberapa pondok pesantren di kaki Gunung Salak mulai ikut serta dalam kegiatan tanam pohon lintas iman ini.


Manfaat Nyata: Dari Hutan hingga Hati

Dampak dari aksi ini sudah mulai terasa di beberapa titik:

  • Kawasan yang sebelumnya rawan longsor kini mulai hijau kembali

  • Sumber air yang hampir kering kini stabil

  • Masyarakat mulai memiliki kesadaran baru terhadap pentingnya hutan

Namun bagi para biksu, hasil paling penting adalah perubahan batin. Kegiatan ini menjadi latihan kesabaran, perhatian, dan kedekatan dengan alam.

“Kami tidak menanam untuk dipanen. Kami menanam agar generasi setelah kami masih bisa merasakan sejuknya angin gunung,” kata Bhante Silarakkhita, sambil menatap barisan pohon muda yang baru tumbuh.


Tantangan: Spiritualitas Bertemu Birokrasi

Meski penuh makna, kegiatan reboisasi oleh biksu tidak lepas dari tantangan:

  • Izin akses ke lahan kritis sering kali terkendala aturan kehutanan

  • Kurangnya dukungan logistik, karena banyak vihara hidup dari dana donasi terbatas

  • Risiko tanaman dicabut atau diganti oleh proyek perkebunan atau properti

Namun para biksu tetap melangkah perlahan. Karena mereka percaya, perubahan besar dimulai dari langkah kecil dan konsisten.


Penutup: Agama yang Menyentuh Tanah

Tradisi menanam pohon oleh para biksu Buddhis di lereng Gunung Salak adalah bentuk dari agama yang menjejak tanah, bukan hanya menjulang ke langit. Ia hadir bukan hanya dalam kitab, tapi juga dalam akar dan daun.

Dalam dunia yang semakin terpisah dari alam, praktik seperti ini adalah pengingat: bahwa spiritualitas sejati tidak bisa lepas dari hubungan kita dengan bumi.

Tanah bukan sekadar pijakan. Ia adalah bagian dari tubuh kehidupan itu sendiri.

Dan ketika seorang biksu menggali lubang kecil untuk menanam benih, ia sedang menanam harapan—bukan hanya untuk hutan, tapi juga untuk dunia yang lebih welas asih.

Baca juga https://angginews.com/

Exit mobile version