https://dunialuar.id/ Hidup “off-grid”—tanpa terhubung ke jaringan listrik, air, atau internet—sering dipromosikan sebagai gaya hidup alternatif yang ramah lingkungan, mandiri, dan bebas dari ketergantungan pada sistem. Tapi di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, istilah ini memiliki makna yang berbeda.
Bagi banyak warga di desa-desa terpencil di gugusan kepulauan Selayar, hidup off-grid bukanlah pilihan spiritual atau ekologis. Itu adalah kenyataan hidup yang diwariskan, dijalani setiap hari tanpa banyak opsi. Di sinilah pertanyaan penting muncul: apakah hidup tanpa infrastruktur dasar adalah bentuk kebebasan, atau cerminan keterpaksaan yang dipoles jadi keuletan?
Tentang Selayar dan Fragmentasi Pembangunan
Kepulauan Selayar terdiri dari pulau utama dan lebih dari 100 pulau kecil lainnya yang tersebar di Laut Flores. Beberapa desa di pulau utama memang sudah dialiri listrik PLN, memiliki akses air bersih, dan jaringan komunikasi. Tapi di banyak pulau kecil—seperti Pulau Jampea, Rajuni, atau Kalaotoa—akses listrik hanya hadir beberapa jam per malam, jika pun ada.
Sebagian besar warga mengandalkan genset pribadi, panel surya seadanya, atau tidak memiliki sumber listrik sama sekali. Mereka menyalakan lampu dari aki bekas yang dicas di kota seminggu sekali, memasak dengan kayu bakar, dan menggunakan air tadah hujan atau sumur dangkal yang rawan intrusi air laut.
Listrik: Mewah dan Tidak Merata
Ketimpangan akses listrik sangat terasa. Di satu sisi, Selayar sebagai kabupaten strategis pariwisata memiliki infrastruktur wisata di kota utama yang cukup memadai. Tapi di pelosok, listrik masih menjadi barang mewah.
PLN memang telah memasang PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) dan beberapa unit solar cell di pulau-pulau, tapi kapasitasnya terbatas. Di banyak desa, listrik menyala hanya dari pukul 18.00 sampai 22.00. Itu pun jika bahan bakar tersedia dan mesin tidak rusak. Dalam banyak kasus, masyarakat hidup dengan lilin dan pelita sebagai sumber penerangan utama.
Bagi keluarga miskin, biaya solar untuk genset terlalu mahal. Akibatnya, aktivitas malam sangat terbatas. Anak-anak kesulitan belajar. Usaha kecil seperti penggilingan, penjahitan, atau pengering ikan tidak bisa berjalan maksimal.
Air dan Sanitasi: Mengandalkan Langit dan Laut
Air bersih juga menjadi masalah besar. Beberapa pulau hanya memiliki sumber air payau atau sumur dangkal yang mudah terkontaminasi. Di musim kemarau, warga sepenuhnya bergantung pada air hujan yang ditampung dalam drum atau bak. Bila habis, mereka harus membeli air dari daratan utama, dengan harga yang bisa mencapai Rp 200 ribu per tangki kecil.
Toilet permanen masih jarang. Masyarakat masih banyak menggunakan jamban sederhana di laut atau di kebun. Sanitasi dan kesehatan pun menjadi isu yang terus berulang, terutama pada anak-anak.
Internet dan Komunikasi: Dunia yang Tak Terjangkau
Di era digital, keterhubungan adalah kebutuhan. Tapi di banyak titik di Selayar, sinyal ponsel masih sulit didapat. Beberapa warga harus naik ke bukit tertentu atau berjalan ke titik tertentu hanya untuk mengirim pesan WhatsApp. Internet hampir tidak dikenal oleh generasi tua, dan akses informasi sangat terbatas.
Ironisnya, pelajar sering kali diminta mengerjakan tugas daring, meskipun mereka tidak punya perangkat atau jaringan. Dalam konteks ini, digitalisasi bukan kemajuan, tapi pengasingan.
Apakah Ini Pilihan?
Memang, ada sebagian kecil warga yang secara sadar memilih hidup off-grid. Mereka menggunakan panel surya mandiri, menanam makanan sendiri, mengumpulkan air hujan, dan menghindari konsumsi berlebihan. Tapi mereka minoritas—dan biasanya berasal dari latar pendidikan lebih tinggi atau dengan akses modal.
Mayoritas warga di pelosok Selayar tidak punya pilihan lain. Mereka hidup off-grid karena negara belum sepenuhnya hadir di sana. Tidak ada listrik karena tiang tidak pernah sampai. Tidak ada air karena pipa tidak pernah ditanam. Tidak ada sinyal karena BTS dianggap tidak ekonomis.
Jadi, pertanyaannya bukan “mengapa mereka memilih hidup seperti ini?” melainkan “mengapa mereka tidak diberi pilihan lain?”
Potensi Lokal yang Terabaikan
Padahal Selayar memiliki potensi luar biasa: kekayaan laut, pertanian organik, wisata budaya, dan masyarakat yang gigih. Jika diberi akses energi terbarukan, pelatihan teknis, dan modal usaha kecil, mereka bisa berkembang secara mandiri tanpa harus meninggalkan desa.
Off-grid bisa menjadi gaya hidup berkelanjutan—tapi harus didukung dengan teknologi dan kebijakan yang berpihak. Misalnya, bantuan panel surya berkapasitas tinggi, sistem air bersih berbasis gravitasi, dan konektivitas internet komunitas berbasis satelit.
Menuju Kehidupan yang Layak
Hidup sederhana bukan berarti harus hidup tanpa hak dasar. Terputus dari jaringan tidak boleh berarti terputus dari hak pendidikan, kesehatan, dan informasi. Negara wajib memastikan bahwa setiap warga, termasuk yang tinggal di ujung selatan Sulawesi, merasakan kehadiran pembangunan yang adil dan merata.
Yang dibutuhkan bukan belas kasihan, tapi komitmen serius untuk membangun pulau-pulau kecil dengan pendekatan lokal. Pulau seperti Selayar bukan beban pembangunan—mereka adalah penjaga batas negeri, dan pantas mendapat perhatian setara.
Penutup: Bukan Soal Pilihan, Tapi Soal Akses
Hidup off-grid di Pulau Selayar bukan kisah romantik tentang kembali ke alam. Ini kisah nyata tentang ketimpangan akses, keterbatasan infrastruktur, dan ketahanan hidup masyarakat di pelosok. Mereka bukan menolak kemajuan, mereka hanya belum dijangkau olehnya.
Sudah waktunya “off-grid” di Selayar menjadi simbol kemandirian yang dibantu, bukan keterpaksaan yang dibiarkan.
Baca juga https://angginews.com/
